
Minggu, 25 November 2012
Cara Ular Berburu di Malam Hari

Keunikan Burung Hantu



Selasa, 13 November 2012
Nyamuk dan Penularan HIV
HIV dapat menular melalui empat macam cairan tubuh: darah, air mani, cairan vagina, dan air susu ibu. Cairan tubuh lainnya tidak menularkan HIV. Penularan HIV dapat terjadi antara lain melalui hubungan seks yang tidak aman, penggunaan satu jarum suntik secara bersama-sama, penularan dari ibu ke anaknya, transfusi darah yang tercemar HIV, maupun kecelakaan kerja. Walaupun mungkin ada perpindahan darah melalui “gigitan” nyamuk, namun belum pernah dinemukan laporan kasus penularan HIV melalui cara ini. Sesuai dengan namanya, HIV hanya dapat hidup dalam tubuh manusia (human). Dalam tubuh nyamuk, HIV tidak berpengaruh dan berpeluang untuk mati. Hal ini disebabkan karena lingkungan dalam tubuh nyamuk tidak sesuai bagi kelangsungan hidup HIV.
Tentu pertanyaan mengenai penyebaran HIV lewat nyamuk tidak berhenti sampai di sini saja. Beberapa pertanyaan lagi dapat muncul sebagai lanjutan. Misalnya: bagaimana jika ada HIV yang terkandung dalam sisa darah yang menempel pada mulut nyamuk? Apabila nyamuk tersebut menusukkan mulutnya ke orang lain, apakah bisa terjadi penularan HIV?
Pertanyaan-pertanyaan di atas dapat terjawab dengan fakta bahwa penularan HIV tidak terjadi semudah penularan penyakit infeksi lain, seperti hepatitis B atau demam berdarah dengue. Untuk terjadi penularan HIV dari satu manusia ke manusia lain, harus ada jalan keluar virus dari orang yang menularkan (exit), virus harus tahan terhadap dunia luar dan tidak mati (sustain), jumlah virus cukup banyak (sufficient), dan harus ada jalan masuk virus pada tubuh orang yang akan tertular (entry).
Memang saat nyamuk “menggigit” pengidap HIV, terbentuk suatu jalan keluar (exit) bagi virus. Lalu jika nyamuk tersebut “menggigit” orang yang lain, terbentuklah suatu jalan masuk (entry). Namun jumlah virus yang menempel pada mulut nyamuk tentu sangat sedikit jumlahnya, kalau tidak dapat dikatakan tidak ada, karena darah yang menempel pun kuantitasnya sedikit sekali. Hal ini menyebabkan faktor “sufficient” yang dibutuhkan untuk terjadinya penularan HIV tidak dapat terpenuhi.
Dari analisa di atas, dapat disimpulkan bahwa masyarakat tidak perlu terlalu takut dengan penularan HIV jika berhati-hati, apalagi sampai mengkhawatirkan adanya penularan HIV melalui “gigitan” nyamuk. Isu-isu dan informasi-informasi yang tidak benar mengenai pengaruh nyamuk dalam penularan HIV dapat menimbulkan kegelisahan masyarakat. Ketidaktahuan masyarakat tentang betapa kecilnya peluang nyamuk menularkan HIV mungkin telah memicu timbulnya stigma kepada ODHA (Orang dengan HIV/AIDS). Pada beberapa kasus, stigma ini bahkan menjadi tindakan diskriminatif yang sangat merugikan ODHA dan keluarganya, misalnya pengucilan atau pengusiran.
Padahal ODHA dapat tetap hidup bersama dan bersosialisasi dengan masyarakat sekitar tanpa harus dianggap sebagai sumber penularan yang menakutkan. Di sinilah edukasi memiliki peranan yang penting. Informasi-informasi yang mungkin terlihat sepele dapat memberikan pengaruh positif dalam kehidupan bermasyarakat apabila disosialisasikan dengan baik
Senin, 12 November 2012
Alap-alap Kawah
Alap-alap Kawah
Alap-alap kawah (Falco
peregrinus) atau Peregrine Falcon dalam bahasa Inggris adalah salah
satu spesies alap-alap berukuran besar, dengan panjang
sekitar 50 cm. Burung ini memiliki bulu berwarna hitam, kelabu dan biru,
berparuh kuning besar dengan ujung hitam lancip dan berekor pendek. Dada dan
perut berwarna putih dengan garis-garis hitam. Burung betina serupa, tapi
biasanya berukuran dan mempunyai paruh lebih besar dari burung jantan.
Mangsa utama
alap-alap kawah adalah aneka burung berukuran sedang, seperti merpati dan
kerabatnya, nuri, jalak dan ayam. Burung-burung ini diburu biasanya
pada waktu sedang terbang. Alap-alap ini juga memangsa hewan-hewan lain,
seperti kelinci, kelelawar, serangga, kadal dan ikan.
Alap-alap kawah
diketahui sebagai salah satu makhluk tercepat di dunia. Pada waktu terbang
mengejar mangsanya, burung ini dapat mencapai kecepatan 320 km/jam.
Anak jenis
Sekitar
sembilan belas subspesies dikenali dengan daerah yang tersebar hampir di
seluruh belahan bumi, dengan perkecualian di Antartika. Hampir semua subspesies di belahan bumi utara bermigrasi
pada musim dingin ke daerah yang lebih hangat. Termasuk Falco peregrinus
calidus dari Asia utara yang bermigrasi ke
wilayah-wilayah pesisir dan dataran rendah kepulauan Sunda Besar
Subspesies F.p.
ernesti di Gn. Mahawu
Ras penetap
(non-migran) elang peregrine F.p. ernesti, dijumpai di
pegunungan-pegunungan di Sumatera utara dan barat, Kalimantan utara, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Ambon, Ternate, Papua dan beberapa pulau di sekitarnya. Ras
ini berwarna lebih gelap di dada dan jarang ditemukan.
Konservasi
Spesies ini
mempunyai daerah sebaran yang luas. Beberapa dari subspesies terancam oleh
hilangnya habitat, penggunaan pestisida dan kontaminasi. Alap-alap kawah
diletakkan dalam status Beresiko Rendah pada IUCN Red List dan
didaftarkan dalam CITES Appendix I.
manfaat sawo bludru
SAWO BLUDRU


Nama daerah untuk sawo ini bermacam-macam khususnya di Pulau Jawa antara lain Sawo Bludru (Yk), sawo apel, sawo ijo (Jateng), sawo hejo(Snd), sawo kadu (Btn), kenitu/manecu (Jatim), sawo duren (Btw)
Sawo Bludru selain pohonnya langka buahnya pun jarang dijual di pasar. Buahnya sebesar buah apel, berbentuk bulat hingga bulat telur sungsang, berdiameter 5-10 cm, dengan kulit buah licin mengkilap, coklat keunguan atau hijau kekuningan sampai keputihan. Kulit agak tebal, liat, banyak mengandung lateks dan tak dapat dimakan. Daging buah putih atau keunguan, lembut dan banyak mengandung sari buah, manis, membungkus endokarp berwarna putih yang terdiri dari 4-11 ruang yang bentuknya mirip bintang jika